Sudah coba berbagai format konten. Caption diganti berkali-kali. Jam upload pun sudah ikut “katanya”. Tapi satu hal tetap sama: Inbox masih sepi. Akhirnya mulai bertanya-tanya: Apakah produknya kurang bagus? Apakah harganya terlalu mahal? Atau memang pasarnya sudah jenuh? Yang jarang disadari, masalahnya sering bukan di situ.
Terlihat rapi, terlihat profesional, tapi terasa terlalu ingin menjual. Padahal, orang yang scroll media sosial tidak sedang berniat beli. Mereka sedang lelah, bosan, dan ingin merasa dimengerti. Itulah kenapa konten yang “niat jualan” sering malah dilewati. Menariknya, ada akun yang jarang menyebut produk. Tidak sering pasang harga. Tidak sibuk pamer hasil. Tapi anehnya… DM mereka tetap masuk. Komentar tetap ada. Leads tetap datang. Bukan karena mereka lebih beruntung. Bukan juga karena algoritma lebih sayang. Biasanya karena mereka paham satu hal sederhana: Orang lebih cepat merespons cerita dan masalah, daripada penawaran. Konten yang membahas rasa capek, kebingungan, atau kesalahan kecil yang sering diulang, justru lebih memancing reaksi. Bukan karena solusinya lengkap, tapi karena pembacanya merasa: “Ini gue.” Dan ketika seseorang merasa dipahami, rasa ingin tahu muncul dengan sendirinya.
Yang pernah merasakan fase ini biasanya langsung mengangguk pelan saat membaca sampai sini.
Tag :
seodenie