Banyak bisnis online punya produk yang sebenarnya bagus.
Tapi anehnya, hasilnya tetap sama sepi leads, sepi respon, sepi penjualan. Masalahnya sering kali bukan pada kualitas produk, melainkan cara produk itu diposisikan di kepala audiens.
Produk yang salah posisi akan terasa:
Padahal solusinya ada, hanya saja tidak terlihat sebagai solusi.
Product awareness bukan tentang memperkenalkan produk, semua orang bisa melakukan itu. Product awareness adalah kondisi ketika audiens: sudah paham masalahnya, sudah paham jenis solusinya, mulai menyadari bahwa produk tertentu masuk akal untuk mereka. Di tahap ini, orang tidak lagi alergi melihat produk, karena konteksnya sudah tepat.
Banyak bisnis gagal di tahap ini karena langsung jualan tanpa konteks, menyebut fitur tanpa relevansi, fokus ke keunggulan internal, terlalu cepat menyebut harga, menggunakan CTA keras. Akibatnya, produk terlihat seperti iklan, bukan jawaban.
Produk yang Benar Selalu Muncul Sebagai “Kelanjutan Logis”
Produk yang diposisikan dengan benar biasanya muncul setelah audiens memahami :
Di titik ini, produk bukan lagi tawaran, melainkan opsi yang masuk akal. Audiens tidak merasa dijualin, karena secara mental mereka sudah sampai di sana sendiri.
Beberapa pendekatan yang sering bekerja:
Produk cukup hadir sebagai “Bagian dari proses” bukan sebagai fokus utama.
Ketika product awareness terbentuk maka yang akan terjadi adalah :
Dampak Jangka Panjang Product Awareness yang Kuat
Bisnis yang konsisten membangun product awareness akan mendapatkan:
Produk bagus tidak selalu kalah karena kualitas. Sering kali ia kalah karena tidak ditempatkan di konteks yang tepat. Ketika audiens sudah memahami masalah dan solusinya, maka produk yang relevan akan terlihat dengan sendirinya. Di titik ini, marketing berhenti memaksa dan mulai bekerja secara alami.
Tag :
seodenie